Selamat Datang di Personal Weblog anjas-bee dan Terima Kasih Atas Kunjungannya

Selasa, 29 November 2022

Ringkasan Sub Pembelajaran 2.2: Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching

 Paradigma Berpikir Coaching

1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan

Pada saat mengembangkan kompetensi rekan sejawat, perhatian dipusatkan pada rekan yang

dikembangkan, bukan pada "situasi" yang dibawanya dalam percakapan. Fokus diletakkan

pada topik apa pun yang dibawa oleh rekan tersebut, dapat membawa kemajuan pada

mereka, sesuai keinginan mereka.


2. Bersikap terbuka dan ingin tahu

Diperlukan berpikiran terbuka terhadap pemikiran-pemikiran rekan sejawat yang

dikembangkan. Ciri-ciri dari sikap terbuka dan ingin tahu ini adalah:

1. Berusaha untuk tidak menghakimi, melabel, berasumsi, atau menganalisis pemikiran orang

lain;

2. Mampu menerima pemikiran orang lain dengan tenang, dan tidak menjadi emosional;

3. Tetap menunjukkan rasa ingin tahu (curiosity) yang besar terhadap apa yang membuat

orang lain memiliki pemikiran tertentu.

Agar dapat bersikap terbuka, maka perlu selalu berpikir netral terhadap apa pun yang

dikatakan atau dilakukan rekan. Jika ada penghakiman atau asumsi yang muncul di pikiran atas

jawaban rekan, maka diubah pikiran tersebut dalam bentuk pertanyaan untuk mengonfirmasi

penghakiman atau asumsi itu secara hati-hati.


3. Memiliki kesadaran diri yang kuat

Kesadaran diri yang kuat membantu untuk bisa menangkap adanya perubahan yang terjadi

selama pembicaraan dengan rekan sejawat. Diperlukan kemampuan menangkap adanya

emosi/energi yang timbul dan mempengaruhi percakapan, baik dari dalam diri sendiri maupun

dari rekan.


4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Diperlukan kemampuan melihat peluang perkembangan yang ada dan juga bisa membawa

rekan melihat masa depan. Coaching mendorong seseorang untuk fokus pada masa depan,

karena apapun situasinya saat ini, yang masih bisa diubah adalah masa depan. Coaching juga

mendorong seseorang untuk fokus pada solusi, bukan pada masalah, karena pada saat kita

berfokus pada solusi, kita menjadi lebih bersemangat dibandingkan jika kita berfokus pada

masalah.


Prinsip Coaching

Terdapat tiga prinsip Coaching, yaitu kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi.

Dalam berinteraksi dengan rekan sejawat atau siapa saja, kita dapat menggunakan ketiga prinsip

coaching tersebut dalam rangka memberdayakan orang yang sedang kita ajak berinteraksi.

1. Kemitraan

Dalam coaching, posisi coach terhadap coachee-nya adalah mitra, yang berarti setara, tidak

ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah. Coachee adalah sumber belajar bagi dirinya

sendiri. Coach merupakan rekan berpikir bagi coachee-nya dalam membantu coachee belajar

dari dirinya sendiri. Kemitraan ini diwujudkan dengan cara membangun kesetaraan dengan

orang yang akan dikembangkan, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah di antara

keduanya. Kesetaraan dapat dibangun dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri kita, pada

saat kita akan mengembangkan rekan sejawat yang lebih tua, lebih senior, dan atau lebih

berpengalaman. Sebaliknya, kita perlu menumbuhkan rasa rendah hati pada saat rekan

sejawat yang akan kita kembangkan adalah rekan yang lebih muda, lebih junior, dan atau

memiliki pengalaman yang lebih sedikit dari kita. Kemitraan dalam mengembangkan rekan

sejawat, juga ditunjukkan dengan cara mengedepankan tujuan rekan yang akan kita

kembangkan. Tujuan pengembangan ditetapkan oleh rekan yang yang akan dikembangkan,

bukan oleh kita, yang akan membantu pengembangan tersebut.


2. Proses kreatif

Coaching adalah proses mengantarkan seseorang dari situasi dia saat ini ke situasi ideal yang

diinginkan di masa depan. Hal ini tergambar dalam prinsip coaching yang kedua, yaitu proses

kreatif. Proses kreatif ini dilakukan melalui percakapan, yang:

1. dua arah

2. memicu proses berpikir coachee

3. memetakan dan menggali situasi coachee untuk menghasilkan ide-ide baru

Prinsip ini dapat membantu seseorang untuk menjadi otonom karena dalam prosesnya orang

yang dikembangkan perlu untuk berpikir ke dalam dirinya untuk mendapat kesadaran diri akan

situasinya dan kemudian menemukan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk

mengembangkan kompetensi dirinya


3. Memaksimalkan potensi

Untuk memaksimalkan potensi dan memberdayakan rekan sejawat, percakapan perlu diakhiri

dengan suatu rencana tindak lanjut yang diputuskan oleh rekan yang dikembangkan, yang

paling mungkin dilakukan dan paling besar kemungkinan berhasilnya. Selain itu juga,

percakapan ditutup dengan kesimpulan yang dinyatakan oleh rekan yang sedang

dikembangkan.


Prinsip dan Paradigma Berpikir Coaching dalam Supervisi Akademik

Prinsip dan paradigma berpikir coaching sangat bisa digunakan dalam proses supervisi, agar

semangat yang lebih mewarnai proses supervisi adalah semangat yang memberdayakan, bukan

mengevaluasi.

Supervisi akademik memiliki tujuan untuk mengevaluasi kompetensi mengajar guru dan proses

belajar di kelas. Kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi, konsultasi, dan

evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil yang diharapkan. Namun, posisi

awal yang kita ambil adalah posisi sebagai seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan

hasil yang diharapkan oleh guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan

paradigma berpikir coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Grocery Coupons